MITOS DAN METODE ILMIAH
Kelompok 4
Yati Patmah 117040156
Mutiara 117040157
Hilmy Maftuhah117040158
Nella Nizhan N 117040160
Elsa Awaliyah117040161
MITOS:
Mitos adalah tradisi lisan yang terbentuk di masyarakat yang digunakan sebagai pedoman hidup. Mitos masih ada dimasyarakat karena sebagian masyarakat masih menerima dan mempercayai adanya mitos tersebut.
Selain itu, mitos dapat diartikan sebagai kisah-kisah atau hal-hal yang sering diceritakan orang tua pada jaman dahulu, sebagai media pembelajaran. Mitos pada umumnya menceritakan tentang terjadinya alam semesta, dunia, bentuk khas binatang, topografi, petualangan para dewa, kisah percintaan mereka dan sebagainya.
Mitos timbul karena rasa ingin tahu, tetapi mengalami keterbatasan akal (rasional) dan keterbatasan indera. Semua indera terbatas untuk mendeteksi, tetapi bukan sebagai alat ukur yang konsisten dan presisi. Jadi bukan alat ukur ilmiah yang baik. Intensitas, kesahihan dan kehandalan indera setiap manusia berbeda, sehingga hasil penginderaan tidak dapat digunakan sebagai standar yang baik.
-. Mata : hanya dapat melihat benda besar, lambat, dan terkena cahaya (gelombang elektromagnetik yang lain tidak dapat diindera oleh mata)
-. Telinga : mendengar hanya bila ada getaran mekanik yang berfrekuensi antara 20 Hz hingga 20.000 Hz dengan intensitas cukup.
-. Hidung : hanya dapat membau jika konsentrasi zat yang dibau di udara cukup, dan hanya dikenal beberapa macam bau itupun tidak konsisten dan presisi.
-. Lidah : hanya dapat merasakan manis, asam, asin, dan pahit. Itupun hanya terbatas untuk skala kecil dan yang tidak beracun.
-. Kulit : hanya dapat merasakan panas dan dingin, kasar dan halus yang sangat terbatas.
Ketidak puasan terhadap mitos:
a. Karena rasa ingin tahuannya, manusia tidak puas terhadap jawaban – jawaban pertanyaan yang tercermin dalam mitos.
b. Jadi mitos muncul karena keterbatasan pengetahuan, pengalaman, indera dan tingkat pemikirannya padahal hasrat ingin tahunya berkembang terus.
c. Pola pikir yang lebih maju dari mitos adalah pemikiran yang menggabungkan pengamatan, pengalaman dan akal sehat (rasio).
METODE ILMIAH
Pada zaman kuno, orang cenderung mengikuti ajaran dari para pemikir dan penguasa. Ajaran itu sering keliru karena masing-masing terlalu mengandalkan akal sehat dan kekuasaan/pengaruhnya. Pengetahuan yang diperoleh dengan cara tersebut merupakan pengetahuan non ilmiah dan karenanya bukan ilmu pengetahuan. Pengetahuan dikatakan ilmiah bila memenuhi 4 kriteria diantaranya:
1. Objektif
a. Sesuai dengan objeknya
b. Dapat dibuktikan kebenarannya dengan cara empirik
2. Metodik
a. Diperoleh dengan cara – cara tertentu yang teratur dan terkendali
3. Sistematik
a. Tersusun dalam suatu sistem, tidak berdiri sendiri, saling berkaitan, tidak saling bertentangan, saling menjelaskan dan seluruhnya merupakan satu kesatuan yang utuh.
4. Berlaku umum
a. Tidak hanya berlaku untuk bebrapa orang atau kelompok tertentu
b. Dengan cara eksperimen yang sama akan diperoleh hasil yang sama
c. konsisten
kebenaran ilmu pengetahuan:
a. Orang sering memandang kebenaran secara ilmiah merupakan kebenaran utama
b. Siapa yang akan mempersoalkan ilmu pengetahuan yang kita alami dalam kehidupan sehari-hari?
Batasan kebenaran ilmu diukur melalui pendekatan ilmu standar:
a. Siapa yang akan mempersoalkan ilmu pengetahuan yang kita alami dalam kehidupan sehari-hari
b. Siapa yang akan mempersoalkan ilmu pengetahuan yang kita alami dalam kehidupan sehari-hari
c. Menurut pandangan ini, ilmu pengetahuan berdiri atas dua tiang penyangga :
- Fakta empiris (dari pengamatan)
- Argumentasi logis
Langkah – langkah pokok metode ilmiah:
Salah satu syarat ilmu pengetahuan adalah bahwa materi pengetahuan itu diperoleh melalui metode ilmiah. Langkah-langkah pokok metode ilmiah adalah (harus urut) :
a. Perumusan masalah:
- Berupa pertanyaan apa, bagaimana atau mengapa tentang suatu objek yang diteliti
- Jelas batasannya dan mengenal faktor – faktor yang mempengaruhinya
b. Penyusunan hipotesis
Merupakan pernyataan kemungkinan jawaban, jadi merupakan jawaban sementara yang harus diuji kebenarannya melalui pengamatan.
c. Pengujian hipotesis:
- Upaya pengumpulan fakta yang relevan
- Fakta dapat diamati secara langsung maupun tidak langsung.
d. Penarikan kesimpulan:
- Berdasarkan analisis yang terkumpul
- Untuk menerima atau menolak hipotesis
- Kesimpulan ini merupakan pengetahuan yang kebenaranya telah teruji secara ilmiah (meskipun sifatnya tetap tentatif).
Keterbatasan metode ilmiah:
a. Kesimpulan ilmiah bersifat tentatif. Fakta untuk menarik kesimpulan berdasarkan hasil pengamatan/pengukuran. Sedangkan indera atau alat ukur apapun tetap memiliki keterbatasan. Akibatnya fakta yang dikumpulkan bisa tidak lengkap atau keliru yang akhirnya kesimpulannya juga dapat keliru. Kesimpulan tetap dianggap benar sebelum ada kesimpulan baru yang menolaknya, atau fakta-fakta baru justru memperkuatnya.
b. Tidak mampu menjangkau/membuktikan kebenaran Wahyu Illahi. Kebenaran wahyu Illahi bersifat mutlak. Fakta dari proses metode ilmiah sekedar membuktikan/mendukung kebenaran wahyu Illahi.
c. Tidak menjangkau kebenaran berdasarkan sistem nilai, ukuran baik dan buruk, ukuran senang dan tidak senang, dll
d. Tidak mampu menjangkau keindahan seni.
Kelebihan metode ilmiah
Sesuai dengan sifatnya, ilmu pengetahuan yang diperoleh melaui metode ini adalah objektif, metodik, sistematik, dan berlaku umum (konsisten). Hal ini akan menumbuhkan sikap ilmiah yang sangat terpuji, meliputi :
b. Tidak percaya pada takhayul, astrologi dan untung-untungan (judi). Segala sesuai terjadi melalui proses yang teratur dan pasti.
c. Memupuk hasrat ingin tahu.
d. Jauh dari prasangka, tetapi terbuka dan objektif, toleran, mengharhai pendapat orang lain.
e. Tidak mudah percaya, apalagi tanpa bukti nyata dan rasional.
f. Bersikap optimis dan teliti.
g. Spotif, berani mengakui kesalahan dan berpegang teguh pada kebenaran tetapi tetap terbuka Tidak kaku).
h. Rendah hati (tidak sombong).
i. Menghormati perbedaan (pendapat dan keyakinan).
j. Semakin yakin terhadap kebesaran Allah SWT.



